Tentang Doa, Usaha dan Semesta

Pernah kau menginginkan sesuatu tapi tak kau dapati?
Kau rasa usahamu sudah penuh, tapi ternyata tak pernah cukup. Hari ini ku dapati satu cerita lagi tentang dua orang anak dan sepeda barunya.

Ada dua orang anak baik yang tinggal ditempat jauh, keduanya menginginkan hal yang sama, sepeda. Mereka berdua paham betul apa yang mereka inginkan, lalu mereka sama-sama bekerja untuk mendapat sepeda yang sama. Anak pertama memahami bahwa jika ia ingin sepeda, maka ia harus memiliki uang yang cukup untuk membelinya. Anak pertama bekerja dengan cara menabung untuk sepedanya. Anak kedua memahami bahwa ia tak cukup mumpuni untuk membeli sepeda tersebut, akhirnya usaha (kerja) yang dia lakukan hanya berdoa dan meminta. Anak pertama terus menerus menabung tanpa orang tuanya mengetahui inginnya, anak kedua terus menerus berdoa sembari memintanya pada orang tua.

Anak keduapun paham betul, permintaannya tidak harus terwujud karna ia paham tidak semua yang ia ingini harus terpenuhi. Anak pertama berfikir sebaliknya, lebih baik ia membeli sendiri dari pada hanya dianggap sebagai tukang mimpi dan ia takut akan dimarahi karna tak mawas diri. Hari telah jauh berganti, semua jerih anak pertama sudah dilakukannnya. Begitupun anak kedua seluruh pinta telah ia ceritakan pada orang tuanya. 

Pagi saat anak kedua membuka mata sepeda itu ada didepan rumahnya, hadiah pemberian dari orang tuanya. Orang tua anak kedua berkata "Hai anakku, ini hadiah dari ayah ibu. Mungkin tak sebaik sepeda yang kau dambakan tapi ini yang terbaik yang kami usahakan". Semesta menjawab doanya, semesta memberikan apa yang dia pinta dan diceritakannya. Dihari yang sama anak pertama juga datang ketoko sepeda ia datang sendirian membawa seluruh hasil jerihnya, tapi ternyata saat ia akan membeli sepeda sang penjual berkata "wahai anak kecil, darimana kau dapati semua uang itu? maaf aku tak bisa membiarkan kau membeli ini sendiri. Pulang lah sayang, minta pada orang tuamu".

Bagaimana perasaan kalian jika menjadi anak yang pertama? Akankah kalian merasa tidak adil? Pernah saya menjadi diposisi seperti anak pertama, iya saya merasa Tuhan tidak adil (saat itu).

Hari ini semua dirubah ketika aku bertemu dengan sesorang yang kemudian ucapannya akan selalu aku ingat. 

"Hasil adalah 90% doa dan 10% usaha"

Sekeras apapun kita berusaha, jika kita tidak meminta kepada Sang Pemilik Semesta, maka semua akan menjadi sia-sia. 

Hari ini satu langkah lagi aku maju mengikhlaskan cinta yang salah. Memang segala daya dan upaya telah habis ku lakukan untuknya, aku menjaganya, memberikan segala yang terbaik yang kubisa untuk dia (yang pada masa lalu kuyakini sebagai calon Imamku). Pada nyatanya jodohnya adalah wanita pendoa itu. 

Memang terlihat wanita itu tak berusaha apapun untuk menjadikan lelakiku yang terbaik. Tapi wanita itu benar sunggu berdoa pada Tuhannya. Tuhan yang sama yang menciptakan lelakiku, Tuhan yang sama yang memiliki semesta, Tuhan yang sama yang bisa membolak-balikan hati umatNya (termasuk hati orang tua lelakiku). Wanita itu berdoa agar mendapat lelaki terbaiknya, dan Tuhan mengabulkan doaNya, memberikan miliku untuknya. 

Aku sekarang berdiri sendiri, pernah ku kecewa, pernah ku marah. Tapi aku sadar, mungkin memang aku tak pernah meminta. Bagaimana lah aku mau meminta jika doa kami saja tidak dialaskan pada Satu Nama. 

Hari ini aku belajar memperbaiki diri, memantapkan hati. Aku mengikhlaskan lelakiku untuk mu pendoa. Hari ini aku juga akan belajar menjadi pendoa yang sungguh. 
Mendekatkan diri kepada Pemilik Semesta, meminta yang terbaik menurut versiNya untuk dipasangkan kepadaku.
Berdoa, berusaha memperbaiki diri hingga akhirnya semesta merestui.

Jatibening, 29 Juli 2018 


Comments

Popular posts from this blog

Quarter Life Crisis

Pembohong

Jangan sebut dia Anjing!